Melakukan Kehendak Allah

“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya. Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?" Lalu Yesus menjawab, kata-Nya kepadanya: "Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah." Dan Yohanespun menuruti-Nya. Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: "Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan."  (Matius 3:13-17)

Mengalami perkenanan TUHAN di tahun yang dahsyat ini tentunya keinginan setiap kita yang sungguh-sungguh percaya serta ‘menangkap’ tuntunan TUHAN yang telah disampaikan melalui Gembala Sidang/Pembina. Kunci untuk mengalami perkenanan TUHAN adalah dengan cara menjadi orang yang berkenan di hati TUHAN. Wah susah kayanya ya? Eits...nanti dulu, jangan terburu-buru bilang susah, karena TUHAN YESUS telah memberikan kita teladan bagaimana kita menjadi orang yang berkenan di hati ALLAH. Yakni dengan cara melakukan kehendak ALLAH / melakukan Firman Tuhan dan penuh dengan Roh Kudus.

Pada kesempatan kali ini, mari kita renungkan bersama beberapa aspek yang perlu kita perhatikan di dalam melakukan kehendak Bapa sehingga kita menjadi orang yang berkenan di Hati-Nya.

1. Melakukan kehendak ALLAH memerlukan ketaatan yang radikal.

Ketaatan yang radikal, atau ketaatan mutlak, sangat diperlukan didalam melakukan kehendak ALLAH. Secara sederhana, ketaatan yang radikal bicara soal taat karena percaya, bukan taat karena mengerti. Artinya sekalipun kita belum mengerti sepenuhnya atas apa yang diperintahkan ALLAH, tapi kita percaya bahwa kalau ALLAH yang memerintahkan, DIA tidak mungkin salah, apalagi sampai menjerumuskan kita. Coba kita renungkan sejenak, kalau kita mau jujur terhadap diri kita sendiri, seringkali kalau tunggu sampai mengerti/paham benar baru kita mau melakukan, maka tidak ada satu pun kehendak ALLAH yang kita lakukan pada akhirnya. Mengapa? Karena siapakah kita, mau berusaha menyelami dan memahami pikiran ALLAH?

“maka nyatalah kepadaku, bahwa manusia tidak dapat menyelami segala pekerjaan Allah, yang dilakukan-Nya di bawah matahari. Bagaimanapun juga manusia berlelah-lelah mencarinya, ia tidak akan menyelaminya. Walaupun orang yang berhikmat mengatakan, bahwa ia mengetahuinya, namun ia tidak dapat menyelaminya”. (Pengkhotbah 8:17).

Karenanya, jangan tunggu sampai mengerti. Percaya saja dan taat dengan demikian kita bisa melakukan kehendak ALLAH.

2. Melakukan kehendak ALLAH memerlukan kerendahan hati.

“Tetapi Yohanes mencegah Dia, katanya: "Akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu, dan Engkau yang datang kepadaku?"

Apa yang dilakukan oleh Yohanes Pembaptis saat mencegah TUHAN YESUS adalah hal yang wajar. Sebab biar bagaimana pun Yohanes tahu siapa yang ada dihadapannya. TUHAN YESUS adalah ALLAH PENCIPTA (Baca : Yohanes 1:1-3), sedangkan Yohanes adalah makhluk ciptaan. Suatu perbedaan ‘derajat’ yang sangat jauuuuuuuuuuuuuh sekali. Tetapi dahsyatnya teladan yang ditunjukkan oleh TUHAN YESUS kepada kita, yaitu bagaimana kerendahan hati-Nya di dalam melakukan kehendak ALLAH.

Tanpa kerendahan hati, manusia cenderung untuk mengikuti kehendaknya sendiri, sebab kehendak manusia seringkali bertentangan denga kehendak ALLAH. Manusia didorong oleh keinginannya untuk mengikuti kehendak sendiri.

Mari kita miliki kerendahan hari agar kita dapat melakukan kehendak ALLAH dalam hidup kita.

3. Melakukan kehendak ALLAH memerlukan komitmen yang penuh.

“...menggenapkan seluruh kehendak Allah."

Jangan setengah-setengah di dalam melakukan kehendak ALLAH! Sekali kita berkomitmen untuk melakukannya, kita lakukan dengan segenap hati kita sampai SELURUH kehendak ALLAH kita lakukan dalam hidup kita.

Komitmen yang penuh didalam melakukan kehendak ALLAH adalah komitmen seumur hidup kita, ada harga yang harus dibayar serta harus melewati proses demi proses. Tapi semuanya itu mendatangkan perkenanan TUHAN atas hidup kita. Amin. (DL)