Nyanyian Pujian Maria

Lukas 1 : 47 – 55

“Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku, sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hambaNya.

(48) Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia, karena Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar kepadaku dan namaNya adalah kudus.”

Manusia adalah makluk tertinggi derajatnya dibandingkan dengan makluk lain, karena manusia memiliki tujuan hidup. Ada tujuan yg sementara, ada juga tujuan akhir bagi manusia.

Para filsuf terkenal dunia berkata, Tujuan akhir manusia adalah kebahagiaan.

Maria memuji Tuhan  dan berkata bahwa “aku berbahagia” di tengah-tengah situasi dan kondisi dia waktu orang mengetahui bahwa dia mengandung seorang bayi tanpa suami, dimana dia terancam dapat dirajam batu karena dituduh berzinah dan dia harus mengungsi dan meninggalkan kotanya.

Maria percaya bahwa di dalam dirinya, terkandung sumber bahagia itu. Kebahagiaan itu bukan sesuatu yang dicari, tapi sesuatu yang diberikan. Dan kita semua telah menerima Sang Sumber bahagia itu.

Pertanyaannya; kalau Sang Sumber bahagia itu ada di dalam kita, mengapa kita masih bisa takut, kuatir? Karena kita sering memandang kebahagiaan itu kita mendapatkannya dari dunia, dari luar diri kita dan karena kita sering lupa bahwa Dia, Yesus, sang pengharapan akan kemuliaan itu tinggal di dalam kita.

Seperti Maria, kita “mengandung” kebahagiaan itu dalam diri kita, dan seharusnya semua perkataan dan tindakan kita mencerminkan kebahagiaan itu.  Kita juga harus “mengandung” iman yang besar, miliki iman yang kuat, supaya kita dapat melihat perbuatanNya yang besar dilakukanNya bagi kita (ayat 49).

Kata “rahmatNya” dalam Lukas 1:50 mempunyai arti yang sama dengan kata”rahmat” dalam Yohanes 3:16 yang berkata “Karena begitu besar kasih / rahmatNya kepada kita”, yang artinya bukan hanya terbatas pada keselamatan dan memiliki hidup yang kekal, tetapi juga memiliki arti “Keselamatan Sekarang” dimana saat ini juga kita dapat menikmati kebahagiaan itu, saat kita percaya kepada Yesus Tuhan dengan segenap hati. Yohanes 3:18 Saat kita tidak percaya, kita berada di bawah hukuman, tapi bukan Tuhan menghukum, melainkan system dunia yang akan menghukum kita dengan nilai-nilai dunia yang menyesatkan.

Kasih setia dalam bahasa Ibrani disebut dalam satu kata yang berbunyi : Hezed, artinya Kasih dan setia Tuhan dalam hidup kita tidak akan pernah terpisahkan, DIA akan tetap setia kepada kita dan tetap menggenapi janjiNya. Haleluya. Amin.

DH